Monday, February 6, 2012

Manggarai Barat Tak Bervisi Pariwisata

Tuesday, October 20, 2009, 1:06
Artikel kategori Pariwisata, Jumlah Komentar 4 Comments

komodonationaalparkPemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, tidak memiliki visi dan misi kepariwisataan. Hal itu antara lain ditandai keputusan Bupati Wilfridus Fidelis Pranda yang mengizinkan lokasi penambangan di zona wisata sekaligus kawasan penyangga Taman Nasional Komodo.

Hal itu disampaikan anggota DPR asal Manggarai, Cypri Aoer, melalui telepon kepada Kompas, Senin (6/7). ”Masyarakat yang peduli lingkungan sepantasnya menolak pertambangan yang berlokasi di zona wisata,” kata Aoer.

Manggarai Barat belakangan ini memanas terkait kebijakan bupati mengizinkan investor melakukan penambangan di Batugosok. Lokasi pertambangan itu sekitar 10 kilometer utara Labuan Bajo, kota Kabupaten Manggarai Barat. Batugosok dan Labuan Bajo terletak di pantai barat Pulau Flores yang langsung menghadap Taman Nasional Komodo (TNK) habitan binatang langka komodo.

Menurut Cypri Aoer, pariwisata bisa memberantas kemiskinan. ”Jika Pemkab Manggarai Barat memiliki pemahaman baik mengenai hal itu, bupati tidak mungkin mengizinkan kawasan wisata menjadi lokasi tambang,” katanya.

Sebaliknya, pemkab seharusnya mengembangkan dan meningkatkan sarana dan prasarana pariwisata. Perkembangan pariwisata memiliki multiefek yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. Hal itu, misalnya, pendapatan petani bisa meningkat dari menjual hasil kebun, seperti sayuran atau buah, ke hotel. Masyarakat bisa bekerja di hotel, menjadi pemandu wisata atau membuat usaha biro perjalanan.

”Membiarkan kawasan pariwisata menjadi kawasan penambangan adalah jalan pintas akibat kekerdilan kebijakan pemkab dalam membangun daerahnya. Padahal, komodo adalah aset dunia yang dilindungi,” papar Aoer.

Terus menolak

Di Labuan Bajo, massa yang bergabung dalam Gerakan Masyarakat Antitambang (Geram) mengagendakan aksi lanjutan menolak penambangan di Batugosok dan lokasi lain di Manggarai Barat.

”Kami akan berunjuk rasa setelah pilpres dan terus melakukan aksi penentangan hingga Bupati Manggarai Barat menghentikan aktivitas tambang di daerah ini,” kata Bernadus Baratdaya, Koordinator Geram lewat telepon di Labuan Bajo, Senin petang.

”Kami mungkin akan menduduki kantor bupati dan mengepung kantor DPRD Manggarai Barat di Labuan Bajo,” ujar aktivis Geram lain, Feri Adu, menambahkan.

Aktivitas penambangan emas di Batugosok hingga Senin tetap berjalan. Dua menara pengeboran (rig) tetap mengebor.

Kompas 2009-07-07/e-Paper: Nusantara

Anda berkomentar di sini, atau Pelacakan dari website anda.

4 Responses to “Manggarai Barat Tak Bervisi Pariwisata”

  1. Gonzales Bali said on Thursday, October 29, 2009, 9:21

    Bupati memang tdk tau apa2 ttg manfaat dr pariwisata……. suru bupati sekolah lg aja….. biar ngga asal ttd aja…. lakukan pertimbangan dgn DPR donk……
    Pa Bupati sering nggak ke Bali….???????? belajar dl ke Bali Pa………pls….. koment ini khusus bt para bupati di Manggarai…. Stdy banding bukan hny dtg liat pa tp BELAJARRRRR eeeeeee.

  2. sensi said on Sunday, December 13, 2009, 19:58

    ini buat semua pemerintah yg d kabupaten mabar,tolong harus jeli melihat peluang dan potensi yang ada d kabupaten mabar,jgn hanya gaya saja mereka tunjukan k masryakat, tolong kelolah dunia parawisata d mabar,coba kita bandingkan dengan bali,sebenarx bali tadak ada apa-apanya degan mabar.tp hanya karena pemerintahnya jeli atau pintar untuk mengelola shingga bali sampai terkenal dseluruh dunia. masa kalah sama pemerintah bali??? malu donk……………….

  3. upa Labuhari said on Saturday, January 9, 2010, 5:00

    Saya sependapat dengan pak Cypri Aur .Pemda Mangbar sepertinya tidak mau tahu dirinya sebagai kawasan parawisata yang satu saat akan menyaingi Bali .Pemda Mangbar hanya mau kebut mencari dana pembangunan daerah ini dari lokasi tambang. Kalau bapak Bupati mau maju lgi sebagai orang nomor satu di daerah ini maka ketidak pedulian dengan parawisata jangan lagi dilakukan. Masalah parawisata di daerah ini perlu menjadi perhatian serius. Soal tambang biarkan saja masalah itu lewat. Jangan kejar itu lagi. Tapi kejar bagaimana wistawan itu bisa menjadi bahan untuk mendapatkan biaya pembangunan.

  4. no name said on Friday, January 29, 2010, 3:21

    dalam pembentukan kabupaten terdahulu yang pertama kita jual adalah pariwisata dengan berbasis pada etnik yang beranekaragam dari masyarakat kita dan yang perlu digaris bawahi adalah pembangunan di mabar sendiri terlihat sangat memaksakan diri dengan tidak memperthatikan sumber daya manusia yang dimiliki…..sehingga SDM mampu mendukung segala aspek pembangunan yang ada di manggarai barat bukan hanya untuk ribut dengan sesama kita atau antara eksekutif dengan legislatif yang gak jelas tapi sok pintar kasihan masyarakat ni yang merasa kerugiannya…… ini hanya usulan saja tolong karna kita daerah pariwisata maka haruss dibuat program yang kesemuanya bermuara pada pariwisata karna semua kecamatan memiliki potensi masing2 jangn urus fisik dan uang saja

Leave a Reply